Ini adalah awal kepulanganku pada jalan Tuhan. Setelah aku keluar dari lintasan. Meninggalkan hampir semua keharusan yang mesti aku lakukan pada jalan Tuhan. Semua itu terjadi dengan sadar, bahwa aku memang mengambil keputusan ini : meninggalkan jalan yang katanya benar. segala kegagalan, frustasi, kepenatan, dalam mengisi hidup yang tak menyenangkan dan tak menenangkan.
Hidup yang kulalui tanpa upaya pendekatan diri pada cahaya abadi membuatku makin tak survive. ini salah satu uji coba yang kulakukan, dimana aku hanya ingin mengejar kenikmatan duniawi (Harta, Wanita, Tahta). Dan yang aku dapatkan adalah masalah yang beruntut.
Bagi orang yang pernah meniti jalan kebaikan, memang tak sepenuhnya aku melupakan “kenyataan Tuhan”. Pada saat aku berpikir tentang hal-hal di luar nilai agama, saat itu pula aku sebenarnya meyakini bahwa Tuhan memang nyata. Tapi itu tak lantas membuatkan langsung tobat dan kembali pada aturan-Nya. Aku tetap berkeras diri meninggalkan segala kewajiban sebagai mahluk ciptaan-Nya.
Semakin jauh, semakin aku tak bisa benar-benar mengingkari “Kenyataan Tuhan”. Dalam “kekafiran” aku mendapatkan kesimpulan sendiri tentang bagaimana mestinya manusia berpikir, bersikap, dan berbuat. Ketika shalat, sangat terasa bedanya ketika aku melakukannya sebelum menempuh jalan yang kering meradang ini. Aku melaksanakan shalat, seperti ada tabir yang membenturkan komunikasiku dengan Tuhan. Shalat yang kulakukan hanyalah sekedar bergerak dan bercuap-cuap saja. Tak ada nada indah yang terekam dalam bathinku. Hambar, tak ada efek sama sekali.
Ketidakberasaan dalam menjalankan ibadah pada jalan yang hambar itu juga menimbulkan efek yang serba rendah. Ucapan, cara pandang, dan perilaku menjadi tak terkontrol. Ini kusadari. Karena hampir setiap malam dalam hidup yang bernilai itu, aku selalu merenungkan perbedaan ketika aku berada dalam jalan-Nya dan ketika aku meninggalkannya. Tapi karena aku sudah merencanakan kekafiran ini sebelumnya, tetap saja aku tak pernah mau kembali pada jalan yang benar. Rencana inipun tak pernah kubatasi sampai kapan. Terserah pada panggilan jiwaku sendiri untuk menyudahinya.
Nasehat orang yang terdekat dengankupun tak kudengar. Karena jika aku menjalankan kebaikan berdasarkan nasehat-nasehat tersebut, sama saja : aku tak merasakan kenikmatan dalam menjalankannya. Aku ingin kepulanganku pada jalan Tuhan karena keputusanku sendiri. Karena kekafiran ini juga aku sendiri yang memutuskannya. Aku lakukan hal ini untuk mendapatkan “pelajaran” yang tak bisa aku dapatkan dari buku, sekolah, ceramah, website, atau manapun.
Ternyata pada tahun inilah aku merasakan sudah saatnya untuk pulang. Aku yakin sekali ini adalah saat yang tepat untuk menyudahi eksperimenku tentang kekafiran.
Ada satu hal besar yang aku rasakan ketika mulai mengetuk pintu spiritual. Yang paling terasa adalah antara aku dan al-Haq, ada tabir yang begitu tebal. Mungkin ketebalannya sebanding dengan lamanya aku hidup di luar ruang spiritual. Sulit sekali untuk menembus tabir tersebut, kecuali aku benar-benar bertekad untuk kembali pada fitrahku sebagai ciptaan. Dan itupun tak lantas menyingkapkan tabir tersebut. Tapi aku yakin, sedikit demi sedikit tabir rahasia ini dapat kutembus hingga aku tak pernah mau memprediksikannya. Yang penting bagiku sekarang adalah terus berupaya menembus tabir cahaya itu. Ya, mungkin istilah TABIR CAHAYA itu agaknya tepat untuk menggambarkan kebuntuan dalam komunikasi spiritual.
ID / E-mail : ahmad_elsaif@yahoo.com
ID / E-mail FB : elsaifud@gmail.com

sudah seharusnya kita berpikir…, bahwa Alloh menyediakan sesuatu sebelum kita meminta…
tidak ada alasan untuk tidak taat padaNya…dan tidak ada alasan tuk tidak berterima kasih padanya…segala kebaikan berpangkal dari nya….dan segala kemuliaan ada karena Nya…,
sungguh jika kita mo lebih dlm lagai berpikir….angin datang bukan karena kehendak kita, namun karena kuasaNya…berjuanglah terus sodaraku….smoga Alloh sllalu bersamamu…
bersama Alloh selalu dan selamanya….barrokalloh..
Sesungguhnya semua yang kita pikirkan sudah dtuliskan dalam kitab yang akan diberikan, dalam baik dan buruknya.
Sesungguhnya tulisan yang kita pilih adalah jalannya juga
Kepada Dia kita memulai dan mengahiri, tiada nilai kita dihadapannya, hanya ada nilainya di hadapan kita, lebih dekat dari urat nadi ; nilainya dalam nama namanya yang agung.
Seperti kita mendekati bayang-bayang, seperti kita
tentukan panjang pendeknya, dekat dan jauhnya bayang bayang itu, tinggal bagaimana kita mengatur sudut matahari,tetapi kita tetap memiliki bayang-bayang.
Carilah dalam dirimu, siapa dirimu sesungguhnya, itulah yang disebut manusia; manusia yang sesungguhnya yang menjadi pemimpin dalam dirinya yang menjadi penyiar bagi manusia yang lain yang menjadi hamba dihadapan yang kuasa.
Manusia bukan bagaimana dia dekat dengan penciptanya tetapi manusia yang didekati oleh yang maha agung karena rindunya Dia bersama kita; Dia merindukan bagaimana kita menerima ketentuannya;
itulah manusia,-
teruslah bersaksi tuk menawarkan cinta bagi dunia… yang sudah tidak manusiawi lagi….
sukses untuk anda.
sungguh cintaku takkan terbagi untuk siapapun, tidak juga untuk engkau ahmad saifuddin…
tapi cintaku telah memintaku untuk berbagi denganmu..
sekali pun, aku tak sanggup menolak keinginan cintaku…
hai ahmad saifuddin….
cinta-Nya tak seperti yang engkau bayangkan…
cinta-Nya tidak seperti yang digambarkan oleh banyak orang..
karena cinta-Nya adalah satu kesunyian yang tidak pernah engkau harapkan…
berjalanlah menuju timurmu….
agar engkau sampai di baratmu…
hingga engkau telah menemukan dirimu tiada guna
hingga engkau menemukan dirimu dalam kesendirian yang sejati..
kabarkanlah aku, jika engkau telah menemukanmu dalam dirimu sendiri…
sampai engkau tahu, bahwa engkau sangat ingin menemuinya dalam cinta sejatimu…
wahai ahmad saifuddin…
rasakanlah dirimu
dalam perasaan tertinggimu…
waduh,bingung…klo hrs ngomong d antara org berilmu…saya msh harus belajar buanyak…CHAYO aja wiz hehehe…!
p(n . n)q