Feeds:
Tulisan
Komentar

Arsip untuk ‘Rabiah Al Adawiyah’ Kategori

Dzunnun Al Misri

Sikap zuhud yang diterapkan dalam kehidupan dunia adalah cikal bakal tumbuhnya tasawuf, sedangkan zuhud itu sendiri adalah bersumber dari ajaran Islam. Pemahaman dan pengamalan zuhud yang berkembang sejak abad pertama hijriah,

Untuk mentranslate bahasa

Syair Rabi’ah Al Adawiyah

Cinta
Cinta itu..
pagarnya api bergunung rindu
hamparan kasih berbaur dendam
berahi kesumat mantra dingin malam
mencari… keasyikan
sendu senjakala
merobek jiwa resah
bagai esuk tak mungkin hadir
Cinta itu….
Mulus jiwanya
hening sukma nya
beku firasat nya
segala nya
hanya Dia
Cinta itu…
Buta kesedaran siang
mentari terbit dinihari
bulan kesiangan mencari si pungguk
menari berkaca jiwa gelora
Panahan arjuna benar-benar terasa
Cinta itu…
hangat dan hidup
hidup dengan Nya
lalu… di sini
aku lemas dengan Nya.
1
Tuhanku, tenggelamkan aku [...]

Untuk mentranslate bahasa

Cinta Allah

“Aku mengabdi kepada Tuhan tidak untuk mendapatkan pahala apa pun. Jangan takut pada neraka, jangan pula mendambakan surga. Aku akan menjadi abdi yang tidak baik jika pengabdianku untuk mendapatkan keuntungan materi. Aku berkewajiban mengabdi-Nya hanya untuk kasih sayang-Nya saja.

Untuk mentranslate bahasa

Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah tergolong wanita sufi yang terkenal dalam sejarah Islam. Dia dilahirkan sekitar awal kurun kedua Hijrah berhampiran kota Basrah di Iraq.

Untuk mentranslate bahasa

Sufi Perempuan

Seberkas cahaya memancar dari bayi yang baru saja dilahirkan tanpa bantuan siapa-siapa. “Ya Allah,” seru Ismail, “anakku, Rabiah, telah datang membawa sinar yang akan menerangi alam di sekitarnya.” Lalu Ismail menggumam, “Amin.”

Untuk mentranslate bahasa

Rabi’ah adalah anak keempat dari empat saudara. Semuanya perempuan. Ayahnya menamakan Rabi’ah, yang artinya “empat”, tak lain karena ia merupakan anak keempat dari keempat saudaranya itu. Pernah suatu ketika ayahnya berdoa agar ia dikaruniai seorang anak laki-laki.

Untuk mentranslate bahasa

Suatu ketika, Rabiah al-Adawiyah makan bersama dengan keluarganya. Sebelum menyantap hidangan makanan yang tersedia, Rabi’ah memandang ayahnya seraya berkata, “Ayah, yang haram selamanya tak akan menjadi halal.

Untuk mentranslate bahasa